Redup lampu dan alunan lagu,
cukup untuk membuat namamu
kembali memenuhi ruang dalam kepalaku.
Sungguh bukan perasaan yang baru,
walau semu, kita pernah menyebutnya sebagai rindu.
Hari makin malam, selesap larut aku dalam pejam.
Tepat sebelum menutup hari,
menyebalkan rasanya mengingat kau pernah disini.
Entah sedang apa kau sekarang,
terakhir bertemu aku yang risau-kusut,
kau berteriak: Jadilah kuat, tak perlu kau lelah mengingat-ingat aku lagi.
Terima kasih Tuhan atas hadirnya kenangan
tepat sebelum aku lelap direndam gelap malam,
ternyata begini rasanya mampus dikoyak-koyak sepi.
Doaku sederhana,
semoga pagi nanti, kau pun aku bisa perlahan menikmati
masih atau tak lagi berjalan sendiri.




