1. "Kalo udah berhubungan dengan perasaan, kadang logika jadi gak jalan lho.”
    - Soalnya logika itu gak kayak kamu sama aku di tiap malam minggu."
    R
  2. Redup lampu dan alunan lagu,
    cukup untuk membuat namamu
    kembali memenuhi ruang dalam kepalaku.
    Sungguh bukan perasaan yang baru,
    walau semu, kita pernah menyebutnya sebagai rindu.

    Hari makin malam, selesap larut aku dalam pejam.
    Tepat sebelum menutup hari,
    menyebalkan rasanya mengingat kau pernah disini.

    Entah sedang apa kau sekarang,
    terakhir bertemu aku yang risau-kusut,
    kau berteriak: Jadilah kuat, tak perlu kau lelah mengingat-ingat aku lagi.

    Terima kasih Tuhan atas hadirnya kenangan
    tepat sebelum aku lelap direndam gelap malam,
    ternyata begini rasanya mampus dikoyak-koyak sepi.

    Doaku sederhana,
    semoga pagi nanti, kau pun aku bisa perlahan menikmati
    masih atau tak lagi berjalan sendiri.

  3. Ternyata begini rasanya larut.

    Ternyata begini rasanya larut.

  4. Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,

    hanya bersama tapi tak bertemu.

    Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,

    terlalu berat menahan beban.

    Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,

    begitu pula aku.

    Kau akan jadi kemarin,

    kukenang sebagai pengantar esokku.

    Mungkin kita hanya penumpang,

    duduk berdampingan tapi tak berbincang,

    dalam gerbong yang beringsut ke perhentian berikut.

    Kita berjalan dalam kereta berjalan.

    Kereta melaju dalam waktu melaju.

    Kau-aku tak saling tuju.

    Kau-aku silisipan dalam rindu.

    Jadilah masinis bagi kereta waktumu,

    menembus padang lembah gulita.

    Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,

    sebab segalanya sudah beda.

    Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,

    tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih.

    Sitok Srengenge dalam Kereta

  5. "Di depanmu aku gugup, kata-kata menjadi gagap, serta jantung terus berdegup."
    R
  6. "Untuk melawan rasa takut akan masa depan, maka tuhan ciptakan desing peluru.
    Lalu tuhan ciptakan riuh kenangan, untuk menghardik masa lalu."
    R
  7. "Sedikit aku masih tersisa di ujung lidahmu, maka mudah kau mengecap rindu."
    R
  8. ssdmmfr:

Artist:
Silvia Pelissero  (aka) Agnes Cecil
“This Thing Called Art is Really Dangerous”
45.5 cm x 61 cm
Watercolor, Acrylic, Pencil, Charcoal and Pen
On Watercolor Paper (300g)

    ssdmmfr:

    Artist:

    Silvia Pelissero  (aka) Agnes Cecil

    “This Thing Called Art is Really Dangerous”

    45.5 cm x 61 cm

    Watercolor, Acrylic, Pencil, Charcoal and Pen

    On Watercolor Paper (300g)

  9. joncarling:

Portrait of a Narwhal

    joncarling:

    Portrait of a Narwhal

About me

Sebuah pertanda dari Tuhan bilamana kau bilang aku buruk, pastikan juga bahwa aku tidaklah baik.
-Roza Oktama

Likes

free counters